
Allah menciptakan manusia sebagai bagian dari alam semesta ini merupakan suatu hal yang harus difikirkan, karena Allah menciptakan manusia dimuka bumi ini bukan tanpa tujuan, bukan pula tiada maksud, dalam kitab Allah disinggung bahwa Allah menciptakan manusia bukan secara main-main saja, untuk apa Alloh sebagai dzat yang paling sempurna menghendaki adanya manusia dimuka bumi ini ?
Setelah Allah selesai menciptakan bumi kemudian mengisinya dengan air, tumbuhan, hewan, maka Alloh menciptakan makhluk yang mutakhir yaitu berupa manusia, yang mana manusia itu dimuliakan oleh Allah, dihormati oleh makhluk-makhluk lain, maka yang harus dimengerti oleh manusia adalah fungsi manusia bagi alam semesta ini. Dalam Al-Qur’an surat 31/20 menerangkan bahwa apa-apa yang ada di langit maupun dibumi ini ditundukkan demi kepentingan manusia. Apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi melayani manusia, bintang-gemintang, rembulan, matahari, udara, air, tanah, tumbuhan, Hewan semuanya melayani manusia. Alam ini diciptakan oleh Allah untuk melayani manusia.
Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
Kemudian apa tugas dan latar belakang manusia diciptakan oleh Allah? Manusia dikatakan sebagai kholifnya Allah, artinya manusia adalah pengganti Alloh, maksud pengganti disini tentunya bukan pengganti dalam segala hal, manusia sebagai pengganti Alloh hanya dalam hal mengatur arah dinamika kehidupan di muka bumi ini, manusia sebagai sarana Allah untuk mengatur dan melestarikan bumi, Alloh mewakilkan kepada manusia untuk melestarikan alam ini, karena hanya makhluk yang bernama manusia yang memiliki serangkaian potensi berupa kecerdasan (intelektualitas), kesadaran dan keinginan (nafs), dengan berbekal dasar ketiganya itu maka Allah percaya bahwa manusia mampu untuk melakukan hal yang demikian itu. Itulah mengapa manusia itu disebut sebagai kholifnya Alloh, manusia sebagai sarana Allah didalam melestarikan alam ciptaannya ini, karena untuk melestarikan bumi ini pasti butuh yang namanya manusia.
Bumi ini luas, isinya banyak dan manusianya sangat majemuk, lantas timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk bisa mengelola dan mengatur sedemikian rupa sehingga terciptalah keharmonisan didalamnya? tentunya butuh sebuah alat, alat peradaban yang mampu untuk mengatur keanekaragaman tersebut, alat yang mampu untuk mensejahterakan. Manusia harus membangun sebuah alat peradaban, dengan sebuah system, system yang mampu mengatur hubungan intersosial manusia serta hubungan manusia dengan alam sekitarnya, manusia harus membangun sebuah peradaban yang setinggi-tingginya, semulia-mulianya agar bumi ini bisa lestari. Nah, tentunya peradaban yang dibangun adalah peradaban yang bersumber dari Sang pencipta alam ini, peradaban buatan Alloh, bukan peradaban buatan manusia.
Dari awal sengaja dipaparkan tentang fungsi dan kedudukan manusia di bumi ini, karena kondisi yang terjadi di bumi ini sekarang ini seharusnya menjadi bahan fikiran bagi kita semua. Terjadinya kerusakan ecosystem di darat maupun dilaut, adanya bencana banjir disetiap musim hujan tiba, dan yang santer dibicarakan belum lama ini adalah adanya Global Warming yang merupakan ancaman bagi keselamatan bumi. Belum lagi kalau kita mau mengarahkan perhatian kita tentang masalah moral social, politik, ekonomi, budaya, dan keamanan, lemahnya supremasi hukum, terjadinya chaos atau kekacauan dan kehancuran tatanan kehidupan dalam suatu komunitas bangsa atau komunitas internasional, rusaknya moral manusia secara merata. Dari sinilah kesengsaraan manusia itu dimulai. Perang antar bangsa terjadi, pembunuhan merajalela, membunuh sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu tindak kejahatan besar, tetapi sudah berubah menjadi suatu keharusan yang akan mendapat ”bintang” bagi pelakunya. Mencuri, merampok sudah menjadi tradisi, pemerkosaan sudah menjadi hal yang biasa. Kehancuran di bidang ekonomi yang menyengsarakan orang banyak sudah merupakan ilmu dalam bisnis, pelacuran dengan menjual kehormatan sudah dianggap sebagai profesi dan lambang selebritis, para penguasa yang seharusnya menjadi penggembala rakyat berubah menjadi “pembunuh”yang sadis, perampok harta rakyat, dan pembunuh hak asasi manusia dan lain sebagainya. Semua itu terjadi bukan secara tiba-tiba dan tanpa sebab, dan ini merupakan masalah serius yang harus kita sikapi secara arif dan bijaksana.
Dalam Al-Qur’an surat 30/41-42 diberitahukan kepada manusia bahwa segala kerusakan alam, baik kerusakan yang ada di daratan maupun dilautan itu disebabkan karena perbuatan tangan manusia, dan bencana alam ini bukan hanya ada pada era sekarang ini saja, tapi ternyata terjadi juga pada kaum-kaum yang dulu. Dikatakan oleh Allah bahwa terjadinya kerusakan alam disebabkan karena perilaku orang-orang yang mempersekutukan Allah (musyrik).
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Katakanlah : "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Kebanyakan manusia yang merasa pintar menyorot masalah kemusyrikan hanya seputar masalah dukun, pesugihan, benda-benda keramat, dan lain-lain tanpa memperhatikan bentuk kemusyrikan yang sesungguhnya yang apa bila kemusyrikan itu dibiarkan, maka akan berakibat terancamnya keselamatan alam semesta. Nah, sebenarnya bentuk kemusyrikan yang seperti apa yang dimaksud? Perilaku kemusyrikan tersebut adalah apabila manusia sudah menyaingi peran Alloh, Alloh mempunyai tiga peranan yakni selaku Robb (Pengatur), Malik (Penguasa), dan Ma’bud (Yang Diabdi). Yang dimaksud Alloh berperan selaku Robb adalah Alloh selaku satu-satunya Pengatur di alam semesta, termasuk pengatur kehidupan ummat manusia. Allah selaku Malik adalah Alloh selaku satu-satunya yang berkuasa atas segala yang diciptakan-Nya. Kemudian Alloh selaku Ma’bud adalah Alloh selaku satu-satunya yang diabdi oleh makhluk-Nya. Tentu, karena Dia-lah Alloh yang menjadi Pengatur dan Penguasa, maka Dia-lah Allah satu-satunya yang diabdi oleh makhluk-Nya.
Ketiga peran Allah inilah yang tidak boleh disekutukan manusia. Manusia tidak boleh menggunakan aturan atau hukum selain aturan atau hukum Alloh. Manusia tidak boleh berlindung di bawah kekuasaan selain kekuasaan Alloh. Serta manusia tidak boleh tunduk-patuh atau mengabdikan dirinya selain kepada Alloh saja. Ketiga peran Alloh inilah yang disebut dengan Ilah Kemudian wujud atau manifestasi daripada Ilah adalah Dien (system tatanan kehidupan). Tentu Dia Alloh selaku Sang Robb atau Pengatur memiliki Rububiyah ‘aturan’, Allah selaku Malik atau Penguasa memiliki mulkiyah ‘kekuasaan’, dan Allah selaku Ma’bud atau Yang Diabdi memiliki Ubudiyah ‘pengabdian’. Satu kesatuan Rububiyah, mulkiyah dan ubudiyah inilah yang dinamakan dengan Dien.
Sehingga makna kemusyrikan yang sesungguhnya adalah ketika di alam ini berlaku dien selain dien Allah, system hidup yang berlaku bukan system yang haq dari, tetapi system kehidupan buatan manusia, adanya aturan, kekuasaan, dan pengabdian kepada selain Allah , sehingga peradaban yang berlakupun adalah peradaban yang bersumber dari buah pemikiran manusia.
Allahlah yang menciptakan alam semesta beserta semua isinya ini, tentunya hanya Allah yang tahu bagaimana cara untuk merawat dan melestarikannya, beserta cara mengatur kehidupan didalamnya agar tercipta keseimbangan, kemudian cara-cara tersebut diberikan kepada manusia. Selama manusia tinggal di alam ini kemudian mereka mau menggunakan cara-cara hidup yang bersumber dari Alloh, maka sudah dipastikan alam ini akan lestari dan tercipta kehidupan yang penuh keberkahan, tetapi tatkala cara-cara itu ditinggalkan kemudian menggunakan cara manusia itu sendiri, maka sudah dipastikan akan terjadi hal yang sebaliknya.
Baik, berdasarkan kenyataan hidup yang kita rasakan sekarang ini, maka menuntun kita untuk berfikir apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup hanya dengan komentar-komentar sinis? sebagai manusia yang berfikir dan peduli terhadap ini semua maka masalah ini harus dikembalikan pada hakekat, fungsi dan kedudukan manusia dimuka bumi ini, yaitu sebagai pemakmur bumi. Untuk memulihkan keadaan ini tentunya harus dikembalikan dengan cara-cara yang bersumber dari Alloh pencipta, pengatur sekaligus pemilik kehidupan sebagaimana yang tertuang dalam Qur’an surat 30/43.
Oleh Karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada Dien yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah
Dalam surat tersebut, terdapat nasehat dan arahan dari Alloh supaya manusia kembali menghadapkan arah hidupnya (berkiblat) terhadap sebuah system tatanan kehidupan (dien) yang haq yaitu Dien Al- Islam, sebuah cara-cara hidup yang berasal dari sang pembuat kehidupan, sebuah ajaran hidup yang pernah diajarkan dan diaplikasikan oleh para Rosul Alloh Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, maupun Muhammad beserta para pengikutnya, system tatanan kehidupan yang berasal dari Allah tersebut adalah ISLAM.
Islam merupakan sebuah Dien yang didalamnya memiliki dimensi yang berbeda daripada islam sekedar sebagai sebuah agama yang identik dengan ritus-ritus, do’a-do’a dan terbatas dalam pengertian religi. Dien Al islam –Dien artinya system kemudian Islam adalah tunduk patuh, jadi Dien Islam adalah System yang mengajarkan ketundukan. Karena Dien Islam adalah Dien milik Alloh, maka arti sesungguhnya Dien Islam adalah sebuah system yang mengajarkan ketunduk patuhan makhluk hanya kepada Alloh saja. inna Diina indallohi al islam. Islam adalah sebuah Dien yang haq, Dien yang datang dari Alloh selaku pencipta sekaligus pengatur segala ciptaan-Nya. Dien Islam tidak hanya menyangkut masalah credo (kepercayaan) ataupun ritualism (aktivitas ritual), tetapi di dalamnya juga terdapat norms (norma-norma atau aturan-aturan), “Din is not merely a religion, but also a way of life and a whole civilization.” Jadi, Din adalah sebuah sistem hidup dan kehidupan yang berlaku di alam semesta, di mana di dalamnya terdapat aspek aturan (rububiyah), kekuasaan (mulkiyah) dan pengabdian (ubudiyah = uluhiyah).
Berdasarkan pengertian islam adalah ideology, sebagai sebuah system hidup, sebagai jalan hidup untuk mencapai keridhaan Alloh, apakah islam sudah diterapkan? bukankah system peradaban yang menguasai dunia saat ini adalah system bikinan manusia? Kalau memandang islam dari sudut pandang religi tentunya tidak bisa dipungkiri bahwa islammerupakan agama besar didunia, namun keberadaan islam yang seperti ini sedikitpun tidak ada pengaruhnya terhadap perubahan kearah keselamatan dunia, terbukti dunia saat ini semakin kacau balau. Bukti konkritnya adalah Negara Indonesia tercinta itu sendiri, dunia internasional mengakui bahwa Negara yang paling besar penganut islamnya adalah Indonesia, namun dengan banyaknya penganut islam di Indonesia tidak juga berdampak pada kesejahteraan rakyat, keadaan sungguh-sungguh berbanding terbalik dengan konsep islam yang sebenarnya. yang menjadi sorotan adalah amburadulnya tatanan politik, ekonomi, moral, social, budaya, keamanan dan kenyamanan di Indonesia. sampai-sampai bang iwan fals pun dalam beberapa lirik lagunya menyentil tentang kondisi Indonesia yang makin tidak menentu, kata bang iwan jeritan rakyat miskin seperti “dentum meriam”.
Sudah saatnya kita sebagai manusia yang berfikir, memikirkan hal ini semua, sudah saatnya system tatanan kehidupan ini kita kembalikan pada system yang diajarkan oleh Allah yaitu DIENUL ISLAM. Ingat saudara, bahwa dalam hal ini bukan berarti masyarakat dunia kita ajak untuk memeluk agama islam, tetapi agar tatanan kehidupan ini ditata dengan tatanan yang pernah diajarkan dan di aplikasikan oleh para Rosul Alloh Nuh, Ibrahim (Abraham), Musa (Moses), Isa (yesus), dan Muhammad. Marilah kita upayakan untuk hidup berdasarkan system kehidupan yang berasal dari Sang pembuat kehidupan, marilah kita berjuang untuk keluar dari kezhaliman ini.
Mengapa kalian tidak mau bersungguh-sungguh dijalan Allah untuk membela orang yang lemah, baik laki-laki, wanita, anak-anak yang mana mereka semua memohon kepada Alloh: Ya robb kami keluarkanlah kami dari negeri yang zholim penduduknya ini, berilah kami pelindung dan berilah kami penolong dari sisi engkau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan lupa komentar anda