Jumat, 18 Februari 2011

Ibadah adalah Pengabdian


Salam Sejahterah, damai dan sentosa bagi kita semua. Sebagai sesama manusia semestinya saling memberi nasehat dan peringatan apabila ada dari kita yang sudah melenceng dari kebenaran yang sejati yang berasal dari Pencipta manusia (Qs.Al Baqoroh 2/147). Maka segala sesuatu perbuatan manusia harus sesuai dengan irodah dan ketetapan Allah, Sungguh mulia jika seorang manusia meniatkan dirinya agar untuk selalu tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya lalu ketika ia telah mengetahui kebenaran itu ia tetap konsisten dengan niatnya. Karena kita telah dianugrahi sesuatu yang sungguh tak bisa dinilai dari semua materi yang ada dibumi ini, maka kewajiban kitalah memberikan kepada mereka pengetahuan tentang-Nya yang mengabdikan diri mereka kepada Allah tetapi mereka tidak mengenal apa itu Allah, apa yang dikehendaki/diperintahkan dan dilarang-Nya???pernah Rasullullah Muhammad SAW berkata "Man arofa nafsah man arofa robbakum" Barang siapa yang mengetahui jati dirinya maka ia akan mengenal Rob-nya(Allah). Sebenarnya dalam diri manusia terdapat berbagai macam sistem aturan yang tidak pernah berubah meskipun bentuk fisik manusia yang berbeda-beda, maka kita perlu berfikir dan mencerdasi semua perintah Allah dalam kitab-Nya jangan sampai kita tertipu dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya Allah gunakan untuk mengkaburkan pemahaman kitab-Nya kepada musuh-musuh Allah(Qs.Al Imran 3/7).

Ibadah merupakan cara mendekatkan diri kepada Sang Kholiq Pencipta Alam Semesta ini, mengingat Allah bukan berarti mengingat fisik yang dipancarkan buah pikiran masing-masing karena jika ada 1000 orang berfikir tentang wujud fisik Allah maka akan ada 1000 juga jawaban, bukankah Allah tidak mempunyai zat apapun, tetapi hanya ada 2 cara untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu memahami segala yang tertuang dalam kitab-Nya baik secara ayat kontekstual maupun ayat akhwan (alam) dan mengikuti siapa yang telah mengenal Allah dikarenakan ia telah menyaksikan perintah dan larangan-Nya itu ter-bayyinat-kan/terimplementasikan pada kehidupan manusia, makanya Rasullulllah Muhammad SAW dikatakan Al-Qur'an yang berjalan bukan berarti Rasullullah kemana-mana bawa Al-Qur'an karena Al-Qur'an ada kurang lebih 300 tahun setelah meninggalnya Beliau, jadi maksudnya sikap, perilaku, tuturkata, gerakan, dan tindakan Beliau sesuai dengan prinsip-prinsip koridor yang telah di-qodo-kan/ditetapkan Allah.

Ibadah adalah translate dari bahasa Arab yaitu "a'bud" (a'bud-abada-ibada) yang orang hari katakan "menyembah", Mari kita berfikir apakah Allah menciptakan manusia untuk menyembah???atau mengabdikan dirinya baik dari jiwa raga dan materi yang dimiliki hanya untuk Allah. Sungguh berbeda orang yang menyembah dan mengabdi, jika kita melihat kata menyembah sangat dekat defenisinya dengan ritual gerakan yang berupa simbolik sangat berbeda dengan mengabdi. Mari kita perhatikan para tentara yang mengabdikan dirinya kepada negara sangat berbeda dengan orang yang duduk memuji-muji kekasihnya tetapi ia tidak melakukan sesuatu yang dicintai dan disukai kekasihnya malah membuat praduga yang menurutnya "ini mungkin yang disukainya". Sangat riskan jika kita memberikan sesuatu kepada seseorang yang kita sayangi tetapi berdasarkan perasaan kita tetapi sebenarnya yang kita berikan itulah yang dibenci Allah. Mari kita mengenali Kitab Allah agar kita tidak tersesat sejauh-jauhnya. Bukankah Rasullullah pernah bersabda "taraktu fikum amrayni maa intamassaktum bihimaa lantadhillu abada kitaabAllah wa SunnataRosuul..." Ku-titipkan 2 perkara agar kalian tidak ingin tersesat didunia berpeganglah pada kitab Allah dan sunnah rasul. Rasullullah mengatakan kitab Allah bukan hanya Al-Qur'an bearti taurat dan injil juga termasuk (Al Maidah 5/68), juga sunnah (Kebiasaan/tradisi) Rasul, kita ketahui Rasul Allah bukan hanya Muhammad, ada isa (Qs.Al Maidah 5/75) ada musa (Qs. Thaha 20/14), jika hari ini ummat yang merasa dirinya islam mengsektekan perkataan Rasullullah Muhammad SAW berarti sudah menyimpang dari perkataan Rasulullah dikarenakan egoisme yang menggebu-gebu merusak aqidah ummat sehingga terjadi perpecahan dimana-mana, bukankah kita punya The Founding Father (Bapak Spiritual) yang sama di Bani Israel menyebutnya Abraham dan Bani Ismail menyebutnya Ibrahim, lantas kenapa kita berpecah dan saling menghujat dikarenakan bentuk ibadah yang berbeda secara gerakan???.


mari kita lihat ibadah dari 2 pendekatan yaitu dari segi simbolik (ritual) dan segi aktifitas (hakikat):

Adz-Dzariyat (QS-51/56)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku

DIN ISLAM yang didakwahkan oleh Muhammad SAW. Merupakan episode terakhir dari mata rantai dakwah yang panjang. Dakwah yang terurai sepanjang sejarah kemanusiaan ini memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memperkenalkan kapada manusia siapa Tuhan meraka yang sesungguhnya, menghambakan mereka kepada-Nya semata, dengan cara menjauhkan mereka dari rangkuhan kekuasaan hamba yang mempengaruhi keputusan, syariat, nilai dan kebiasaan mereka. Lalu mengembalikannya kepada kekuasaan, kebijakan, dan syariat ALLAH semata. Sekaligus membinasakan tuhan – tuhan palsu yang memperbudak mereka dan tunduk di bawah kekuasaan tertinggi dari ALLAH SWT sebagaimana halnya semesta alam yang melingkupi manusia tunduk dengan patuhnya pada perintah – perintah (rububiyah ) ALLAH.

Salah satu persoalan utama yang diluruskan Muhammad SAW, adalah persoalan ibadah (pengabdian) kepada ALLAH yang telah disimpangkan oleh masyarakat musyrik Mekah, meskipun dalam kesehariannya, telah melakukan ibadah ritual simbolik, seperti sholat dan haji dimasjidil haram, membayar zakat sedekah dsb. Namun ibadah mereka tidak didasari atas pemahaman wahyu, tetapi hanya persangkaan/praduga ilmunya secara subyektif dan atau ikut ikutan pada praktek ibadah nenek moyang mereka.

Ibadah dalam pemahaman Al-Quran dan Sunnah Rasul dibagi dalam dua kategori, yaitu Ibadah dalam arti ‘’ ritual simbolik ’’ (arkanul Islam, simbol atau icon) dan ibadah dalam arti ‘’ aktifitas ‘’ (buniyal Islam, action) yang terdiri lima pondasi dasar yaitu : - syahadatain (dua kalimat syahadat), - sholat, - zakat, - shaum (puasa), dan haji. Ibadah simbolik memiliki peran yang penting namun ibadah secara aktivitas jauh lebih penting. Ibarat sebuah karung beras dengan merek / cap (simbol khusus) seperti cap rojo lele, ramos, dll adalah hal yang penting untuk menunjukkan kualitas dari beras di dalam karung namun lebih jauh lebih penting adalah berasnya itu sendiri. Jika perintah ibadah mahdloh tersebut dipahami hanya sebatas simbolik, maka esensi ibadah tersebut tidak akan memiliki pengaruh dalam hidup dan kehidupan manusia di alam semesta.

Begitu pula kalau ibadah hanya dipahami sebatas melaksanakan ibadah mahdloh, maka tentu ALLAH tidak akan menurunkan Al – Quran sebanyak yang ada sekarang karena ayat – ayat tentang sholat, zakat, shaum dan haji jika dikumpulkan hanya ratusan ayat dari enam ribuan ayat Al-Quran.

Ibadah dalam arti Arkanul ISLAM (ibadah Simbolik; sering disebut rukun ISLAM) dapat dirinci sebagai berikut :


1. SYAHADAT

(dua Kalimat syahadat), yaitu : Asyhadu an Laa Ilaha illallah wa Asyhadu anna Mumammadan RasululLAH; saya bersaksi bahwa ‘Tiada Ilah / Tuhan selain ALLAH dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasul ALLAH.

a. Secara simbolik, seseorang dikatakan Islam apabila mereka telah mengucapkan dua kalimat syahadat ini. Namun apakah hal tersebut sudah cukup mewakili ke-Islaman seseorang, karena siapa pun dengan mudah mengucapkan syahadatain dengan kepentingan masing – masing. misalnya, seorang kaum non Muslim yang ingin menikahi seorang wanita Muslimah haruslah berpindah ‘agama’ dengan ditandai pengucapan dua kalimat syahadat tersebut. meskipun setelah beberapa saat setelah menikah dia dapat saja keluar – masuk ke dalam ‘Islam’ semaunya. Begitu mudah dan murahnya seseorang menyandang predikat MUSLIM. Lalu apakah hal ini yang dimaksud oleh kalimat tauhid tersebut..? tentu saja tidak. Keimanan seseorang dalam pandangan Islam tidak hanya diperlihatakan secara simbolik dengan takrir (pengucapan) syahadatain, tetapi keimanan seseorang seharusnya dicapai melalui 3 tahap, yaitu tahap tasbdiqun bil qolbi (pembenaran oleh qolbu / akal), taqirun bil lisan (pengucapan dengan lisan),dan ‘amalun bil arkan mengamalkannya / mengaktivitaskannya dengan rukun – rukun / cara tersendiri).

Mayoritas umat Islam (yang merasa muslim) hari ini hanya sampai pada tahap takrir bil lisan (pengucapan dengan lisan), baik melalui proses tasbdiqun bil qoibi (pembenaran dengan akal) atau hanya sekedar ikut – ikutan. Hal yang terpenting dari syahadat itu sendiri,adalah bagaimana cara mengamalkan / mengaktivitaskan dua kalimat syahadat dalam hidup.

b. Secara Aktivitas; Untuk mampu mengamalkan dua kalimat syahadat dalam hidup dan kehidupan, maka pemahaman akan makna dari kalimat suci ini adalah keniscayaan.

1. Syahadat kepada ALLAH; Asyhadu an laa Ilaha illa Allah (Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah)
Dari ungkapan ini, terkandung pemahaman bahwa pada saat Muhammad berdakwah, masyarakat Mekkah telah memiliki Ilah – Ilah selain Allah dan mereka sebenarnya paham akan makna dari ungkapan tauhid ini. Bagaimana cara mengaktivitaskan syahadat kepada ALLAH ? Yang perlu diperjelas terlebih dahulu adalah apa yang dimaksud dengan ILAH. Dalam penjelasan Al-Quran, yang dimaksud dengan ILAH adalah :

o Sesuatu yang dicintai.
o Sesuatu yang ditaati.
o Sesuatu yang diibadati.
o Sesuatu yang ditakuti.
o Sesuatu yang dikagumi.

Sehingga apa pun di dunia ini yang dicintai, ditaati, diibadati, ditakuti, dan dikagumi selain ALLAH, maka sesuatu itu telah menjadi ILAH bagi dirinya dan pada saat bersamaan telah menjadi hamba yang musyrik, Baik itu berupa materi, kekuasaan berikut atributnya, simbol peribadatan, hawa nafsu, atau diri kita sendiri (perhatikan QS. Al – Jatsiyah / 45: 23; at – Taubat / 9: 24; dan Ali Imram / 3: 14). Namun hal ini tidak berarti bahwa manusia dilarang untuk cinta atau taat kepada selain-Nya. Tetapi bagi akidah seorang mu’min, mencintai atau menaati sesuatu bukan lantaran materi sesuatu itu sendiri melainkan karena izin ALLAH. Misalnya saja, saya ………kepada orang tua saya karena ALLAH telah menentukan saya untuk …….. kepadanya.

2. Syahadat kepada Muhammad; Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul ALLAH).
Lalu bagaimana mengaktivitaskan kalimat ini dalam hidup dan kehidupan seorang mu’min ? Kalau kita kembali menyimak perjalanan jihad Rasulullah Muhammad di atas dan memperhatikan makna dari QS. Ali ‘Imran / 3: 31, ‘katakanlah: ‘jika kalian (benar – benar) mencintai Allah, ikutilah aku (muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa – dosamu.’, maka jelas yang dimaksud mengaktivitaskan syahadat kepada Muhammad adalah dengan mengikuti SUNNAH RASUL (enam fase perjuangan jihad Rasulullah dalam rangka menegakkan din islam).

2. SHOLAT

a. Secara ritual / simbolik, shalat lima waktu kita lakukan setiap hari masih berupa ibadah simbolik. Karenanya di dalam shalat lima waktu banyak simbol yang menggambarkan wujud ketaatan dan kerendahan manusia mu’min di hadapan Allah. Bahkan di dalam sholat telah mengikrarkan diri untuk menyerahkan segala gerak–gerik, hidup dan mati hanya untuk ALLAH. Tentunya ikrar yang secara rutin diucapkan ini tidak hanya sebatas ucapan, namun dibutuhkan bukti konkrit dalam bentuk aktivitas. Tidaklah mengherankan bila sholat yang dilakukan hanya sebatas ritual, tidak mampu mencegah pelakunya dari perbuatan yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah Rasul.

b. Secara aktifitas : tentunya simbol – simbol sholat seperti ruku’ (lambang dari ketundukan pada hukum Allah) dan sujud (lambang dari ketaatan kepada perintah Allah. Di samping itu sholat adalah ibadah anfus (diri). Maknanya bahwa dalam rangka menegakkan DIN ALLAH, kta harus mampu mengorbankan diri (kepentingan individu atau kelompok, waktu, tenaga, dan pikiran) demi tegaknya hukum ALLAH.

3. ZAKAT

a. Secara simbolik; Zakat Mal (harta) dan zakat fitrah yang dibayarkan adalah masih sebatas simbolik dalam rangka mengikis rasa kepemilikan kepada harta dan menyadari sebagai amanat dari Sang Pemilik Harta yang Maha Kaya.

b. Secara aktivitas; ibadah zakat sebagai ibadah maaliyah (harta) sering digandengkan dengan ibadah sholat. Maknanya bahwa dalam rangka mentegakkan DIN ISLAM, maka seorang mu’min dituntut untuk mampu mengorbankan dirinya dan sebagaian hartanya di jalan Allah. Hal ini dituangkan secara jelas di dalam (QS. Ash – Shaff / 61: 10-12).


4. SHAUM (Puasa)

a. Secara simbolik; Ibadah shaum Ramadhan yang diwajibkan allah kepada setiap mu’min adalah ibadah simbolik seperti yang tertera dalam
(QS. Al – Baqarah 2/183). Inti dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. SABAR dalam pemahaman Al-Quran bukanlah sabar seperti dalam pemahaman manusia. Sabar yang dimaksud dalam Al-Quran adalah “gigih dan ulet” seperti yang dimaksud dalam(QS. Ali ‘Imran 3/146).

b. Secara aktivitas ; Nilai nilai kesabaran (gigih dan ulet) diaplikasikan dalam hidup dan kehidupan demi tegaknya DIN ISLAM.

5. HAJI

a. Secara simbolik; Menuaikan ibadah haji ke Baitullah di setiap musim haji adalah bentuk ritual dari ibadah simbolik tahunan yang hanya diwajibkan kepada orang – orang yang mampu (materil, fisik, dan keilmuan). Dan bukanlah wisata ritual yang tidak mempunyai nilai bagi hidup dan kehidupan setelah melaksanakannya.

b. Secara aktivitas; dalam rangka menegakkan DIN ALLAH, setiap mu’min dituntut untuk ikut berperan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Misalnya dalam menyampaikan kebenaran wahyu, kita menyampaikan sesuai dengan batas kemampuan pemahaman kita, baik satu atau dua tiga ayat. (QS-2/286)

Dari lima butir ibadah di atas dapat disimpulkan, bahwa :

1. Lima hal tersebut merupakan basic idea (pemikiran/pemahaman dasar) dari penegakan DIN Islam
2. Penegakan DIN ISLAM harus ditopang oleh pengorbanan diri dan harta.
3. Perjuangan An’ Aqimuddin (penegakan DIN) harus dilandasi oleh semangat yang pas, tidak terlalu ngotot dan tidak terlalu loyo.

Ibadah yang sebenarnya adalah bahwa manusia mengikuti aturan dan hukum ALLAH dalam hidupnya, dalam setiap langkah dan setiap kondisi, dan melepaskan dirinya (baro’ah) dari setiap hukum yang bertentangan dengan hukum ALLAH (QS-60/4). Sejak usia baligh hingga wafat.Ibadah tidak terbatas oleh waktu waktu tertentu, melainkan harus dilakukan sepanjang waktu. Ibadah juga tidak mempunyai bentuk yang khas. Dalam setiap perbuatan dan pekerjaan, ibadah kepada ALLAH harus dilaksanakan. Karena seorang mu’min tidak bisa mengatakan , “saya hanya menjadi hamba ALLAH pada waktu waktu tertentu, dan tidak menjadi hamba-NYA pada waktu waktu yang lain “,Dengan kata lain , ibadah adalah melaksanakan aturan aturan Al-Quran seperti yang dicontohkan dalam sunnah para Rasul-Nya.

Diakui bahwa ibadah yang paling berat adalah ibadah Sholat dalam arti mengorbankan diri (tenaga, waktu, dan pemikiran) dalam rangka penegakan DIN ALLAH. Secara ritual simbolik, ibadah sholat haruslah memiliki syarat wajib / sah agar sah dan diterima sebagai ibadah, yaitu : bagi seorang Muslim yang sudah baligh, berakal sehat, dan tentunya suci (baik fisik maupun qolbunya / akidahnya).

Akhirnya marilah kita merenungi perjalanan hidup yang singkat ini selagi ALLAH masih memberi kesempatan. Sudahkah kita menempatkan diri sebagai hamba ALLAH dan sudahkah kita melaksanakan aturan aturan ALLAH dalam hidup dan kehidupan ini ..? ataukah kita memang belum pantas menyandang gelar sebagai mu’min (hamba ALLAH yang bertaqwa)???.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jangan lupa komentar anda